Singapura tetap jadi destinasi utama bagi wisatawan Muslim, meskipun kecerdasan buatan semakin mengubah sektor pariwisata global.
Peringkat Singapura di Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis oleh Mastercard dan CrescentRating pada hari Kamis (18 Juni) menunjukkan bahwa negara ini menempati posisi ke-11 secara global dan yang pertama di antara negara non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
CrescentRating adalah organisasi riset yang berbasis di Singapura dan fokus pada pariwisata halal, yang merupakan subkategori pariwisata yang mengutamakan kebutuhan mereka yang mengikuti aturan Islam.
Kota kecil ini memperoleh skor 72 di dalam indeks itu, yang didorong oleh “ekosistem kuliner halal, standar keamanan yang tinggi, lingkungan multikultural, dan infrastruktur destinasi yang cerdas”.
Indeks menunjukkan bahwa empat dari lima wisatawan kini menggunakan alat AI untuk merencanakan, mengevaluasi, dan menemukan perjalanan mereka.
“Ketika AI semakin terintegrasi dalam perencanaan perjalanan, destinasi dan bisnis perlu mempermudah akses informasi terpercaya, pembayaran aman, dan layanan ramah Muslim,” ujar Aisha Islam, wakil presiden senior dari pusat solusi pelanggan Mastercard di Asia Tenggara.
GMTI terbaru menilai 150 destinasi yang mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim global.
Asia tetap menjadi “pusat gravitasi” pasar ini, dengan hampir 128 juta kedatangan Muslim dan penetrasi pasar yang mencapai 20,8 persen.
Malaysia mempertahankan posisi teratas secara global selama 11 tahun berturut-turut dengan skor 82, didukung oleh sektor pariwisata halal yang berkembang pesat dan agenda Visit Malaysia 2026.
Indonesia mengalami kenaikan tiga peringkat dan berbagi posisi kedua secara global dengan Turki dan Saudi Arabia, yang masing-masing mendapatkan skor 79.
Di antara destinasi non-OKI, Hong Kong melesat ke posisi kedua, sementara Taiwan dan Inggris berbagi posisi ketiga.
Asia Tenggara Menang di Tengah Gejolak Perjalanan
Di tengah gejolak global yang terus berlanjut, termasuk meningkatnya harga bahan bakar, ketegangan geopolitik, dan gangguan ruang udara, terjadi pergeseran menuju destinasi yang “lebih dekat, lebih aman, dan lebih dapat diprediksi”, menurut GMTI.
Alih-alih membatalkan perjalanan, wisatawan memilih mobilitas “di benua sendiri”.
Asia Tenggara kini muncul sebagai koridor utama perjalanan bagi wisatawan Muslim Asia pada tahun 2026, berkat “kedekatannya dengan pasar utama, konektivitas udara yang kuat, ekosistem halal yang mapan, dan daya tarik budaya yang kaya”.
Momentum regional ini semakin diperkuat dengan daerah-daerah khusus yang menunjukkan pertumbuhan, di mana Mindanao di Filipina diakui sebagai wilayah ramah Muslim non-OKI yang paling menjanjikan, sementara Jawa Barat di Indonesia mengambil posisi teratas untuk wilayah OKI.

