TOKYO, 14 Juni – Jepang bersiap mengirim delegasi ke Greenland musim panas ini untuk mengevaluasi kemungkinan ekstraksi mineral tanah jarang, menurut laporan dari Nikkei pada hari Minggu.
Rombongan yang akan dikirim termasuk pejabat dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, perusahaan perdagangan, serta Badan Keamanan Logam dan Energi Jepang. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan pejabat pemerintah setempat, tambah laporan tersebut.
Pulau Greenland, yang merupakan wilayah otonom dari kerajaan Denmark, belakangan ini telah menarik perhatian banyak pihak. White House pada bulan Januari lalu mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan cara untuk memperoleh pulau ini, membuat sekutu NATO di Eropa merasa khawatir. Sejak saat itu, pembicaraan ini beralih ke jalur diplomatik.
Ketertarikan terhadap Greenland terletak pada lokasi strategis dan potensi cadangan mineral tanah jarang yang kaya. Mineral ini memiliki banyak kegunaan, mulai dari teknologi konsumen, energi terbarukan, hingga aplikasi pertahanan, sehingga keberadaannya sangat bernilai di pasar global saat ini.
Kondisi tersebut membuat banyak negara, termasuk Jepang, memprioritaskan akses untuk sumber daya ini di tengah perhatian yang meningkat terhadap keamanan pasokan di era geopolitik yang terus berubah. Langkah Jepang ini tidak hanya tentang menambang sumber daya, namun juga bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperkuat ketahanan energi dan logam di dalam negeri.
Adanya eksplorasi ini bisa membuka peluang baru untuk investasi dan kemitraan, serta mendorong perkembangan inovasi teknologi yang berbasis pada bahan-bahan tersebut. Dengan minat yang semakin tinggi terhadap teknologi hijau dan transisi energi yang berkelanjutan, tanah jarang menjadi semakin penting. Jadi, langkah Jepang ini sangatlah menarik untuk diikuti, mengingat dapat mempengaruhi dinamika pasar global dan investasi di masa depan.
Semua mata kini tertuju pada keadaan yang akan terjadi setelah delegasi ini melakukan kunjungannya. Mungkinkah ada kesepakatan yang terjalin antara Jepang dan Greenland? Atau mungkin akan ada dampak yang lebih luas terhadap geopolitik di kawasan Arktik? Satu hal yang pasti, perhatian terhadap sumber daya mineral menjadi semakin mendominasi diskusi di tingkat internasional.

