[JAKARTA] Bank Dunia mengungkapkan pada Kamis (11 Juni) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan melambat menjadi 5 persen pada tahun 2026. Hal ini dipicu oleh tekanan fiskal yang meningkat akibat program belanja ambisius dan biaya subsidi bahan bakar yang melonjak setelah terjadinya perang di Iran.
Ini adalah prediksi yang lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan Indonesia yang berkisar antara 5,4 persen hingga 6 persen.
Tahun ini, Indonesia dihadapkan pada arus modal keluar yang besar, dengan nilai tukar rupiah jatuh ke level terendah dan pasar saham merosot lebih dari 30 persen. Semua ini terjadi di tengah kekhawatiran investor akan rencana belanja besar Presiden Prabowo Subianto, meskipun subsidi bahan bakar dari anggaran negara terus membengkak.
Bank Dunia menjelaskan bahwa proyeksi untuk tahun 2026 ini refleksi dari hasil yang lebih baik dari yang diperkirakan pada kuartal pertama serta belanja publik yang diberlakukan lebih cepat, dan bukan signifikansi dari lingkungan eksternal yang lebih baik atau penilaian risiko.
Dalam laporannya, Bank Dunia menekankan bahwa laju pertumbuhan ini bergantung pada keberhasilan stimulus fiskal pemerintah dalam mendorong konsumsi publik. Namun, hal ini berisiko karena terdapat ruang yang terbatas untuk pengeluaran.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa harga minyak yang lebih tinggi telah meningkatkan biaya subsidi energi dan kompensasi. Sementara itu, depresiasi rupiah juga mengerek biaya pembayaran utang luar negeri.
Bank Dunia meminta pemerintah untuk secara bertahap menyesuaikan subsidi bahan bakar guna mengatasi tekanan fiskal yang terus meningkat.
Selama ini, Indonesia menggunakan keuangan negara untuk menjaga harga bahan bakar tetap stabil, demi mempertahankan dukungan publik. Awal pekan ini, pemerintah hanya menaikkan harga untuk dua jenis bensin yang banyak digunakan sebesar 32 persen, yang dipandang analis sebagai penyesuaian kebijakan.
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa subsidi yang bersifat umum justru lebih menguntungkan rumah tangga kaya daripada kelompok rentan di masyarakat.
Harga bahan bakar adalah isu yang sensitif secara politik di Indonesia, dan kenaikannya sering kali memicu protes di seluruh nusantara dengan populasi mencapai 280 juta orang.
Laporan Bank Dunia mencatat bahwa gejolak harga minyak ini memberikan peluang untuk mereformasi program subsidi dan beralih kepada bantuan yang lebih terfokus, termasuk transfer tunai kepada 40 persen rumah tangga termiskin serta pengalihan penghematan untuk perlindungan sosial dan investasi.

