Industri teknologi yang sedang berkembang pesat di Korea Selatan dan peningkatan kekayaan konsumen tampaknya jadi sorotan dalam industri barang mewah global. UBS alias United Bank of Switzerland mengidentifikasi beberapa merek kelas atas yang bisa menikmati peningkatan pengeluaran dari para pembeli Korea.
Bank tersebut menyatakan bahwa bukti semakin banyak yang menunjukkan bahwa ledakan semikonduktor berbasis kecerdasan buatan di negara ini sudah merembet ke perekonomian yang lebih luas. Sebuah perjanjian kerja baru-baru ini di Samsung Electronics akan memberikan rata-rata bonus sekitar $340.000 kepada pekerja chip, mendukung daya beli konsumen sambil menghindari pemogokan yang bisa mengganggu pasokan chip global.
UBS menyoroti pentingnya Korea Selatan bagi perusahaan-perusahaan barang mewah, dengan menyebutkan bahwa konsumen Korea menyumbang persentase penjualan yang cukup signifikan bagi banyak grup mewah, yaitu di kisaran satu digit menengah hingga tinggi. Bank ini menggambarkan pembeli Korea sebagai sosok yang selalu mengikuti tren fashion dan berpengaruh di kawasan Asia, menjadikan mereka indikator penting untuk memahami tren permintaan regional.
Data terbaru menunjukkan bahwa permintaan akan barang mewah semakin menguat. Operator department store melaporkan pertumbuhan penjualan yang solid, sementara merek mewah memberikan komentar yang lebih positif dalam musim laporan keuangan. UBS mengaitkan perbaikan ini dengan efek kekayaan yang kuat dari pasar saham yang melonjak, pembayaran bonus besar di industri semikonduktor, meningkatnya pariwisata dari China, dan melemahnya nilai won Korea yang meningkatkan daya saing harga barang mewah lokal.
Di antara perusahaan barang mewah, UBS memperkirakan eksposur tertinggi ke pasar Korea Selatan dimiliki oleh Moncler, dengan sekitar 10% penjualannya terkait dengan pasar tersebut, diikuti oleh Prada yang sekitar 9%, dan Hermès serta Burberry dengan sekitar 8%. Nama-nama penting lainnya termasuk Salvatore Ferragamo SpA, Kering, Richemont, dan LVMH Moet Hennessy Louis Vuitton SE.
Namun, UBS mengingatkan bahwa permintaan tetap tidak merata di berbagai kategori. Segmen barang mewah dengan harga tinggi, seperti jam tangan dan perhiasan, tampak lebih mendapat manfaat dari meningkatnya kekayaan konsumen dibandingkan dengan kategori barang mewah yang lebih “lunak”.
Bank ini juga berargumen bahwa valuasi sektor barang mewah telah menjadi lebih menarik setelah mengalami penurunan tajam yang berkaitan dengan kekhawatiran tentang ketidakpastian geopolitik dan permintaan dari China. Saat ini, saham barang mewah diperdagangkan dengan sekitar 48% premium dibandingkan dengan pasar Eropa yang lebih luas, di bawah rata-rata jangka panjang, dan memberikan ruang untuk potensi penyesuaian kembali jika tren permintaan terus membaik.

