[JAKARTA] Bank Indonesia baru saja mengumumkan peningkatan suku bunga kebijakan sebesar 50 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,25% pada review kebijakan yang dilakukan Rabu (20 Mei). Kenaikan ini lebih besar dari yang diperkirakan, sebagai langkah untuk mendukung nilai tukar rupiah yang akhir-akhir ini terpuruk ke titik terendahnya.
Ini adalah pertama kalinya dalam dua tahun terakhir Bank Indonesia (BI) melakukan kenaikan suku bunga, mengangkat suku bunga reverse repurchase rate 7-harinya dua kali lipat dari ekspektasi ekonom yang di survei oleh Reuters.
Tak hanya itu, BI juga mengerek suku bunga fasilitas simpanan overnight dan fasilitas pinjaman dengan angka yang sama, yaitu masing-masing menjadi 4,25% dan 6,00%.
Gubernur Perry Warjiyo menjelaskan, “Kenaikan ini adalah langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah proaktif untuk menjaga inflasi dalam rentang target pada tahun 2026 dan 2027.”
Rupiah telah menembus rekor terendahnya melawan dolar AS, dengan kekhawatiran investor mengenai dampak ekonomi dari perang di Iran semakin diperburuk oleh rencana pengeluaran Jakarta, independensi bank sentral, serta transparansi di pasar modal.
Rangga Cipta, kepala ekonom Mandiri Sekuritas, mengatakan, “Kenaikan sebesar 50 basis poin oleh BI tidak hanya menunjukkan prioritas pada stabilitas nilai tukar tetapi juga menunjukkan kredibilitas dan independensi BI yang terjaga.”
Dia menambahkan bahwa ada kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, tergantung pada kondisi rupiah, meskipun tidak dianggap sebagai awal dari siklus kenaikan suku bunga yang panjang mengingat investasi domestik masih lemah dan pertumbuhan PDB masih berada di bawah potensi.
Warjiyo memastikan bahwa likuiditas perbankan akan tetap terjaga agar dampak dari kenaikan suku bunga tidak terlalu memberatkan aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, rupiah tercatat mencapai titik terendah baru di 17.745 per dolar pada perdagangan pagi hari itu. Setelah keputusan BI, rupiah diperdagangkan sekitar 17.600 per dolar, dan telah mengalami penurunan sekitar 6% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia yang sedang berkembang.
Cadangan devisa Indonesia juga menunjukkan penurunan sebesar US$10 miliar hingga April, sebagian besar akibat intervensi yang dilakukan oleh BI untuk mempertahankan nilai rupiah.
Warjiyo menambahkan bahwa langkah-langkah BI dalam menaikkan suku bunga, intervensi pasar, dan usaha menarik aliran modal masuk diharapkan dapat membantu menstabilkan rupiah. Permintaan dolar saat ini tinggi, terutama karena perusahaan-perusahaan merepatriasi dividen dan membayar utang luar negeri, serta adanya permintaan dari calon jemaah haji di bulan Ramadan.
“Kami percaya bahwa akan ada aliran modal besar yang akan memenuhi permintaan valas,” katanya. “Inilah alasan mengapa kami percaya bahwa kurs akan stabil di bulan Juni dan cenderung menguat di bulan Juli dan Agustus.”
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga memaparkan target ambisius untuk defisit fiskal dan pertumbuhan ekonomi tahun depan, sekaligus berkomitmen untuk memperkuat institusi.
Pemerintah sejauh ini telah melindungi sebagian besar konsumen dari lonjakan harga bahan bakar melalui peningkatan subsidi, yang membantu menjaga inflasi di angka 2,42% pada bulan April, di dalam rentang target BI yang ditetapkan antara 1,5% hingga 3,5%.
Warjiyo menandaskan bahwa meskipun inflasi masih rendah, ada tekanan dari kenaikan biaya energi global, maka BI sedang merumuskan kebijakan untuk memastikan inflasi tetap sesuai target hingga tahun 2027.
BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 di kisaran 4,9% hingga 5,7% untuk ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.

