Rantai pasokan RAM saat ini menghadapi isu baru yang dapat berujung pada kenaikan harga yang lebih tinggi lagi. Sebelumnya, sudah ada kabar mengenai gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang memengaruhi pasokan bahan kimia vital untuk produksi memori. Reportase dari The Elec menunjukkan bahwa situasi ini akan memperparah kenaikan harga, yang sekarang dijuluki sebagai ‘guncangan pasokan terkait Iran’.
The Elec menggarisbawahi bahwa asam hidrofluorik, bahan yang digunakan untuk etsa dan pembersihan dalam produksi RAM, kini harganya meningkat akibat kenaikan harga bahan baku utama, yaitu hidrogen fluorida anhidrat, yang melonjak hingga 40 persen sejak awal tahun 2023.
Belum lama ini, meski kenaikan biaya ini telah diserap dan tidak diteruskan ke konsumen, hal itu dipastikan tidak akan bertahan lama. Pada akhir Juni atau Juli mendatang, produsen chip memori Korea Selatan seperti Samsung dan SK Hynix akan mengalami lonjakan biaya untuk asam tersebut, dan kenaikan ini diperkirakan akan signifikan.
Asal mula masalah pasokan ini bisa dilacak kembali pada kekurangan sulfur, dengan pasokan global dari unsur ini mengalami penurunan hampir sepertiga akibat gangguan di Selat Hormuz. Bahan baku untuk asam hidrofluorik memerlukan asam sulfat dalam proses produksinya, sehingga masalah ini berdampak besar terhadap pasokan asam hidrofluorik.
Analisis: Tertekan (lagi)
Dengan para pemasok asam hidrofluorik yang mengenakan biaya lebih tinggi kepada produsen chip memori, wajar jika produsen RAM akan meneruskan kenaikan biaya ini, yang akhirnya akan ditanggung oleh konsumen. Singkatnya, dengan rencana produksi yang semakin mahal dalam waktu sekitar sebulan ke depan, kita akan melihat lebih banyak kenaikan harga RAM. Tentu saja, ada jeda antara pembuatan chip memori dan distribusinya ke retailer.
Sangat disayangkan, ini adalah pelajaran lain bagaimana gangguan dalam perdagangan dan pengiriman global dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas. Saat ini, apa yang paling dibutuhkan industri RAM dan konsumen adalah pengurangan tekanan harga di pasar memori yang sudah sangat mahal.
Kabar seperti ini membuat kita bertanya-tanya, kapan krisis RAM ini akan berakhir? Prediksi terkini menunjukkan bahwa masalah ini mungkin akan berlanjut hingga 2028 (setidaknya). Namun, baru-baru ini seorang mantan bos dari Samsung memberikan pandangan yang lebih optimis, meskipun pandangan itu terkesan berlawanan dengan realitas yang ada.
Dalam dunia yang cepat berubah ini, penting untuk terus memantau keadaan pasar dan dampaknya terhadap teknologi serta konsumen. Setiap beast yang muncul dalam rantai pasokan bisa jadi penentu nasib dari inovasi terbaru yang sangat kita nantikan.

