[JAKARTA] Indonesia siap mulai mengekspor listrik bersih ke Singapura pada akhir tahun ini, menurut seorang pejabat senior investasi.
Ini menyusul persiapan dua negara untuk pertemuan para pemimpin yang diharapkan dapat memperdalam kerja sama ekonomi.
Pandu Sjahrir, kepala investasi dari dana kekayaan negara Indonesia, Daya Anagata Nusantara, menyebutkan bahwa proyek ini memiliki nilai investasi sekitar US$30 miliar dan bisa menghasilkan sekitar 3 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan.
“Kami berharap bisa mulai mengekspor listrik terbarukan pada akhir tahun ini. Inisiatif ini diharapkan menjadi salah satu proyek energi bersih terbesar di kawasan,” kata Pandu pada hari Senin (11 Mei), sebagaimana dilaporkan media lokal.
Dana tersebut tengah mendekati beberapa perusahaan Singapura untuk menjajaki kemitraan pembiayaan bagi proyek ini, tambahnya.
Beberapa perusahaan sudah mendapatkan izin bersyarat dari Otoritas Pasar Energi Singapura untuk proyek yang bertujuan mengimpor listrik rendah karbon dari Indonesia, dengan operasi komersial ditargetkan mulai 2029 hingga 2030. Salah satu perusahaan tersebut adalah Singa Renewables, sebuah usaha patungan antara Royal Golden Eagle dan TotalEnergies.
Selain mengekspor ke Singapura, Pandu menyebutkan bahwa proyek energi terbarukan ini juga akan mendukung kebutuhan listrik dalam negeri Indonesia, seiring pemerintah berupaya membangun kapasitas listrik hingga 100 GW dalam beberapa tahun ke depan.
Retreat Para Pemimpin
Proyek ini diperkirakan akan menjadi sorotan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong yang akan datang.
Upaya untuk mengekspor listrik hijau juga dibahas dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Jakarta pada hari Selasa, mencerminkan peningkatan kerja sama energi antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara.
Setelah pertemuan tersebut, Sugiono menjelaskan bahwa para menteri telah meninjau kemajuan beberapa inisiatif bilateral dan mendiskusikan persiapan untuk Retreat Pemimpin Indonesia-Singapura, sebuah pertemuan tahunan yang menetapkan arah kerja sama strategis.
Fokus utama diskusi adalah memperkuat kolaborasi ekonomi, termasuk perdagangan listrik lintas batas dan investasi dalam pengembangan energi berkelanjutan.
“Kami berharap ini bisa menjadi proyek listrik terbesar, terutama dalam hal listrik berkelanjutan,” kata Sugiono.
Para menteri juga membahas pengembangan kolaborasi di bidang ketahanan pangan, teknologi agribisnis, serta proyek pengembangan industri yang bertujuan menciptakan lapangan kerja.
Sugiono menambahkan bahwa kedua pemerintah berencana mengembangkan keberhasilan zona industri bersama yang sudah ada, termasuk yang ada di Batam, Bintan, dan Karimun, serta Kendal Industrial Park di Jawa Tengah, sambil menjajaki perluasan zona industri berkelanjutan yang baru.
“Inisiatif ini bukan hanya proyek ekonomi, tapi juga peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kami, memperluas kesempatan, dan meningkatkan taraf hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Dr Balakrishnan menyatakan bahwa hubungan bilateral antara kedua negara tetap kuat dan saling menguntungkan, mencatat bahwa Singapura telah konsisten menjadi mitra dagang utama Indonesia dan investor asing terbesar selama lebih dari satu dekade.
Pada kuartal pertama 2026, negara kota tersebut mencatatkan kontribusi signifikan terhadap total investasi asing Indonesia sebesar 250 triliun rupiah (S$18.2 miliar), terutama di sektor industri hilir, logam dasar, transportasi, dan energi terbarukan.
Dr Balakrishnan juga menunjuk pada kerja sama yang berkembang dalam ekonomi digital dan hijau, termasuk proyek seperti Nongsa Digital Park di Batam dan Kendal Industrial Park.
Sumber daya energi terbarukan yang melimpah di Indonesia – termasuk solar, geotermal, dan tenaga air – telah menempatkan negara ini sebagai kandidat kuat untuk menjadi pusat energi regional.
“Saya melihat Indonesia sebagai superpower dalam bidang energi,” ungkap Dr Balakrishnan, menambahkan bahwa peran Singapura sebagai pusat teknologi dan pembiayaan infrastruktur bisa melengkapi potensi energi Indonesia.
Ia menambahkan bahwa kedua belah pihak sedang berupaya mengembangkan proyek perdagangan listrik lintas batas yang diluncurkan dalam pertemuan pemimpin sebelumnya, yang bertujuan mempercepat pengembangan energi terbarukan sambil mendukung transisi energi di Asia Tenggara.
Inisiatif tersebut juga dapat berkontribusi pada rencana regional yang lebih luas, seperti Asean Power Grid, sebuah jaringan yang diusulkan untuk menghubungkan sistem listrik di seluruh kawasan.

