Menurut laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA), pasar gas alam global tampaknya akan tetap ketat hingga tahun 2026. Ketegangan yang berlangsung di Timur Tengah serta kerusakan infrastruktur di daerah tersebut terus memengaruhi pasokan LNG (liquefied natural gas) secara signifikan.
Pada hari Jumat, 24 April, IEA menyebutkan bahwa konflik ini telah menunda harapan akan melimpahnya pasokan LNG walaupun ada penambahan kapasitas baru. Perluasan kapasitas yang didorong sebagian besar oleh AS ini terpaksa mundur “setidaknya dua tahun”.
Peringatan ini sejalan dengan prediksi dari Vitol Group, sebuah perusahaan perdagangan energi, yang menyebutkan bahwa pasokan global bisa terdampak hingga tahun 2028. Mereka merujuk pada kerusakan fasilitas LNG di Qatar pada bulan Maret dan keterlambatan pada proyek-proyek baru di seluruh Timur Tengah.
Konflik yang kini memasuki bulan kedua ini menunjukkan tidak ada tanda-tanda mereda, yang secara efektif mengganggu sekitar seperlima dari pasokan minyak dan LNG global.
Qatar mengungkapkan bahwa serangan Iran pada bulan Maret telah merusak sekitar 17 persen kapasitas pencairannya. Proses perbaikan bisa memakan waktu hingga lima tahun.
Gabungan dari kehilangan pasokan dalam waktu dekat dan pertumbuhan kapasitas yang melambat diprediksi akan menghasilkan defisit kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik LNG antara tahun 2026 hingga 2030, menurut IEA. Perkiraan ini juga mencakup penundaan pada proyek ekspansi North Field East di Qatar.
Saat ini, permintaan di pasar-pasar utama pengimpor mulai melunak sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi, cuaca yang lebih sejuk, dan upaya kebijakan untuk mengurangi konsumsi. Beberapa negara di Asia beralih menggunakan bahan bakar alternatif dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan bahan bakar di tengah kekurangan pasokan.
“Respons permintaan akan menjadi kunci untuk menyeimbangkan pasar gas global,” kata IEA.

