Intisari Penting
- Matthew Shifrin, seorang superfan LEGO yang tunanetra, mendirikan organisasi nirlaba Bricks for the Blind tiga tahun yang lalu.
- Sejak didirikan, Bricks for the Blind telah memproduksi instruksi aksesibel untuk ratusan set LEGO dan membuatnya tersedia secara gratis bagi ribuan pengguna di seluruh dunia.
- Instruksi tersebut merinci manual visual resmi menjadi langkah-langkah berbasis teks yang dapat bekerja dengan tampilan braille dan pembaca layar.
Di usia 13 tahun, Matthew Shifrin pertama kali menyadari bahwa ia bisa membangun set LEGO sepenuhnya sendiri. Saat duduk di meja makan di Newton, Massachusetts, ia menjelajahi sebuah binder tebal yang berisi instruksi braille langkah demi langkah untuk membangun LEGO yang kompleks, sebuah istana besar bergaya Timur Tengah. Binder itu disiapkan oleh pengasuhnya yang merupakan teman keluarga, yang paham tentang kebutaan Shifrin dan mengerti betapa frustrasinya ia harus bergantung pada orang lain untuk menerjemahkan buku petunjuk LEGO yang hanya bergambar.
Ketika Shifrin mulai membangun istana tersebut, ia merasakan kesenangan memahami setiap potongan dan sambungan, tanpa ada orang lain yang menghalangi antara dirinya dan balok-balok LEGO. Ia sudah lama mencintai LEGO, tetapi kebutaannya membuatnya bergantung pada keluarga dan teman untuk menjelaskan instruksi. Binder istana itu benar-benar mengubah segalanya. Untuk pertama kalinya, ia bisa membangun dengan kecepatan sendiri dan mengulang langkah-langkah yang diperlukan.
“Ini adalah pertama kalinya saya bisa membangun set LEGO sendiri,” kata Shifrin. “Ini benar-benar pengalaman luar biasa karena saya sepenuhnya mengendalikan proses pembangunan. Saya tahu di mana potongan-potongan itu harus diletakkan dan bisa belajar tentang dunia di sekitar saya.”
Merevolusi Aturan LEGO
Shifrin pun berpikir, jika satu seluruh set LEGO bisa diterjemahkan ke dalam braille, banyak set lainnya juga bisa. Tiga tahun lalu, ia secara resmi meluncurkan Bricks for the Blind, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menciptakan instruksi aksesibel untuk set LEGO. Kini, di usia 28 tahun, ia memimpin tim yang terdiri dari sekitar 30 penulis yang bisa melihat dan penguji yang tunanetra, yang merincikan manual visual resmi menjadi langkah-langkah berbasis teks yang dapat dinikmati oleh pembaca braille dan pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara.
Organisasi ini menyediakan instruksi tersebut secara gratis untuk pembangun yang tunanetra dan memiliki penglihatan rendah di seluruh dunia melalui situs web mereka. Panduan ini menggambarkan bentuk, jumlah tonjolan, dan orientasi spasial, sehingga seorang pembangun yang hanya mengandalkan sentuhan bisa membayangkan model tersebut dengan jelas, sama seperti seseorang yang melihat diagram visual LEGO.
Bricks for the Blind telah memproduksi instruksi aksesibel untuk lebih dari 540 set LEGO sejauh ini, termasuk dari mobil dengan 100 potongan hingga jembatan dengan 4.000 potongan. Sekitar 3.000 pembangun di AS dan internasional telah menggunakan panduan ini.
Memperjuangkan Inklusi
Pada tahun 2017, Shifrin membawa kasusnya langsung ke LEGO Group di Denmark, mengemukakan bahwa kegembiraan membangun tidak seharusnya bergantung pada penglihatan. Upaya advokasinya membantu mendorong perusahaan untuk mengembangkan instruksi pembangunan resmi dalam bentuk audio dan braille, yang mulai diperkenalkan sebagai program percobaan pada tahun 2019 dan sekarang telah diperluas untuk mencakup lebih banyak set.
LEGO juga memperkenalkan Braille Bricks pada tahun 2019, yang merupakan potongan khusus dengan tonjolan yang sesuai dengan huruf, angka, dan simbol. Blok-blok ini tersedia dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris, Prancis, dan Spanyol. Perusahaan juga secara bertahap mulai menyertakan minifigure dengan keterbatasan penglihatan dalam set mereka, mengintegrasikan disabilitas ke dalam dunia fiksi mereka.
“Banyak orang tunanetra telah terpinggirkan dari fenomena budaya dan masa kecil yang keren ini, yaitu dapat membangun LEGO dan bermain dengan LEGO,” kata pembangun tunanetra Minh Ha. “Ada sesuatu yang sangat memuaskan dan mengasyikkan ketika bisa merangkai bangunan-bangunan yang sangat rumit dan indah.”
Selain itu, produsen mainan lainnya juga mulai memperluas lini produk mereka agar lebih inklusif. Contohnya, Mattel telah memberikan berbagai tipe tubuh pada lebih banyak Barbies dan menambah lini produk mereka dengan Barbies yang dilengkapi kursi roda dan anggota tubuh prostetik.

