Sebuah akun GitHub baru-baru ini mempublikasikan apa yang diklaim sebagai rekonstruksi Stuxnet, worm yang telah mengacaukan sentrifug uranium Iran. Stuxnet adalah perangkat lunak pertama yang secara luas dianggap telah menyebabkan kerusakan fisik di dunia nyata, menunjukkan bahwa perangkat lunak berbahaya bisa jadi lebih merusak bagi manusia dan perangkat keras daripada sekadar mencuri atau memanipulasi data.
Pangkalan data ini muncul lewat unggahan di Show HN, yang kemudian diangkat oleh media mainstream, menyoroti rekayasa balik dari kode yang belum diketahui siapa penelitinya. Walaupun banyak orang penasaran, sumber asli dari Stuxnet belum pernah dirilis, dan repositori ini mengklaim bahwa kode yang ada hanyalah hasil rekaman dari biner yang dikompilasi ulang. Biner-biner ini telah beredar publik sejak firma Belarusian VirusBlokAda mengambil sampel dari mesin pelanggan Iran pada bulan Juni 2010.
Segala yang berikutnya, termasuk Dossier W32.Stuxnet dari Symantec dan karya Ralph Langner yang berjudul “To Kill a Centrifuge,” dibangun berdasarkan sampel-sampel tersebut dan bagaimana mereka bereaksi di lingkungan pengujian.
Bukan yang Pertama dan Terakhir
Ini bukanlah kali pertama kode dalam bahasa C yang bertujuan mereplikasi Stuxnet dipublikasikan secara online. Peneliti malware Amr Thabet sebelumnya pernah mempublikasikan dekompilasi dari rootkit MRxNet dengan hak cipta dari 2010 hingga 2011. Christian Roggia kemudian melanjutkan dengan dekompilasi dropper bernama open-myrtus, yang memiliki hak cipta dari 2012 hingga 2014, dan telah dibuat cabangnya yang panjang dari repositori-repositori lainnya.
Ironisnya, jika kode tersebut benar-benar merupakan replika dari malware terkenal itu, seharusnya tidak mencantumkan “Stuxnet” di banyak tempat, termasuk di kunci registri. Ini karena nama tersebut bukanlah yang digunakan para pengembang, melainkan nama yang diubah oleh Symantec dari identifier aslinya, ‘W32.Temphid.’
Diskusi awal mengenai repositori ini oleh pengguna yang bernama Sadpainy menghasilkan berbagai pendapat dari para pengembang, banyak di antara mereka menyebutnya sebagai ‘AI slop’ atau ‘palsu’ yang mengandalkan campuran dari repositori yang sudah ada. Sementara itu, halaman tentang repositori GitHub-nya menyatakan bahwa kode ini dihasilkan oleh peneliti untuk tujuan edukatif dan hanya dirancang untuk bekerja di Windows XP dan Windows 7.
Bagi mereka yang ingin mengujinya, mesin virtual mungkin jadi pilihan terbaik, terutama mengingat kemampuan Stuxnet yang bisa merusak perangkat keras secara fisik. Namun, ini juga menjadi pengingat yang jelas tentang apa yang bisa dilakukan agen AI liar jika dibiarkan tanpa instruksi atau perlindungan tertentu.

