Di tengah kebangkitan kecerdasan buatan (AI), salah satu sosok kunci yang tak bisa diabaikan adalah Jensen Huang, co-founder dan CEO Nvidia. Perusahaannya memproduksi GPU yang unggul dalam pelatihan dan inferensi, dan kini berada di pusat infrastruktur dan pembangunan energi. Seperti banyak tokoh terkemuka, Huang juga punya pandangan tentang risiko yang muncul dari teknologi ini.
Huang mengungkapkan bahwa banyak narasi pesimistik seputar AI sebenarnya berbahaya. “Saya rasa kita sudah banyak merusak dengan banyak sosok terhormat yang melukiskan narasi kelam, seperti akhir dunia dan imajinasi sains fiksi. Saya mengapresiasi banyak dari kita yang tumbuh dengan menikmati sains fiksi, tetapi itu tidak membantu,” komentarnya dalam sebuah podcast.
Risiko Existensial dari AI
Tidak bisa dipungkiri, setiap teknologi baru membawa risiko, termasuk AI. Namun, tidak ada teknologi lain yang sepertinya mendapatkan peringatan seintens AI. Dalam podcast No Priors, Huang sangat menentang narasi “doomer” yang mendominasi pembicaraan tentang risiko AI.
Pada tahun 2023, sekelompok ilmuwan dan pemimpin industri teknologi menandatangani surat terbuka yang memperingatkan kemungkinan AI dapat menyebabkan kepunahan umat manusia, dan seharusnya dipertimbangkan seiring dengan risiko berskala besar lainnya, seperti perang nuklir. Di antara yang menandatangani, terdapat nama-nama besar seperti Elon Musk, Sam Altman, dan Bill Gates. Namun, Huang absen dalam daftar tersebut.
Pandangan Huang, yang ia sampaikan di podcast, adalah bahwa banyak ketakutan ini berlebihan dan terpengaruh oleh cerita sains fiksi dari abad ke-20.
Apakah Risiko Ini Benar-Benar Berlebihan?
Banyak ketakutan yang terkait dengan AI tidak berhubungan dengan kemampuan AI saat ini, tetapi lebih kepada konsep kecerdasan umum buatan (AGI) yang lebih hipotetis. AI dalam bentuk ini, secara teori, akan dapat meniru kecerdasan manusia, bertindak secara mandiri, mengubah kodenya sendiri, dan menetapkan tujuan dan sasaran yang dapat dicapainya.
Kemungkinan hasil dari skenario ini memang berbeda-beda, namun tetap belum tercapai, dan kemungkinan tidak akan terwujud setidaknya dalam 10 atau 15 tahun ke depan, meskipun ada yang berpendapat mungkin akan terjadi lebih cepat. Bagaimanapun, Huang benar ketika mengatakan bahwa penerapan AI saat ini masih sangat primitif dan membutuhkan banyak bimbingan manusia sehingga kita tidak mungkin kehilangan kendali. Meski begitu, AI yang bersifat mandiri menawarkan lapisan baru dalam permukaan serangan korporasi, terutama seiring dengan semakin banyaknya adopsi oleh organisasi, dan mungkin rentan terhadap eksploitasi di masa depan.

