Suatu sore di pusat kota Manhattan, di tengah terik musim semi, saya terpesona oleh pengalaman mendengarkan musik yang tidak biasa. Berkat Dolby Atmos dan Audible, saya merasakan lagu klasik dari Sir Elton John, Rocket Man, dengan cara yang belum pernah saya alami sebelumnya. Gelombang suara dari 38 speaker di dalam Cadillac Escalade membuat detak jantung saya berdegup kencang. Saya sudah mendengarkan lagu itu selama 50 tahun, tetapi sore itu, lagu tersebut bagaikan menghadirkan dimensi baru.
Pengalaman musikal ini adalah bagian dari acara di pop-up store Audible Story House. Tempat ini mirip dengan buku tentu tetapi tanpa buku fisik sama sekali. Di lantai utama, rak dipenuhi dengan batu Lucite yang disebut “Story Tiles.” Di salah satu sisinya, ada cover dari audiobook Audible, podcast, atau pengalaman mendengarkan lainnya. Para pelanggan dapat menggesek ponsel mereka ke salah satu bata tersebut dan langsung mulai mendengarkan cerita pilihan mereka, sementara yang tidak berlangganan juga bisa mencoba dengan mendaftar percobaan Audible.
Audible Story House bukan hanya tempat mendengarkan, tetapi juga ruang bermain untuk cerita. Terdapat ruang acara untuk pembicara dan diskusi santai, serta Dolby Lounge di basement yang menawarkan pengalaman audio yang mendalam. Di lantai atas ada kafe kecil dan ruang merchandise, di mana pengunjung bisa mendengarkan buku Audible sambil bersantai di antara banyak bantal. Paling menarik, ada Story Bar yang dikelola oleh “Storytender”, yang bertugas membantu pengunjung memilih audiobook sesuai dengan selera mereka.
Pada saat itu, Storytender menawarkan saran berdasarkan genre buku favorit saya, dan akhirnya saya disarankan untuk mendengarkan Beloved karya Toni Morrison. Meskipun bukunya tidak sepenuhnya sesuai selera saya, saya menghargai usaha dan interaksi personal yang ditawarkan. Tidak hanya sekadar mendengarkan, tetapi juga menemukan sesuatu yang baru.
Produksi yang Nyata
Kolaborasi Audible dengan Dolby Atmos telah berjalan selama tiga tahun, dan baru-baru ini mereka menyelesaikan semua tujuh buku Harry Potter dalam format ini. Selama kunjungan, saya mendengarkan beberapa di antaranya. Ketika anak-anak saya kecil, kami sering melakukan perjalanan selama delapan jam ke rumah nenek, dan buku-buku CD seperti Harry Potter menjadi salah satu favorit mereka. Versi baru ini menampilkan ratusan aktor dan efek suara berkualitas film, yang membuat pengalaman mendengarkan sangat mendalam dan berbeda.
Di Dolby Lounge, kami mendengarkan cuplikan dari Pride and Prejudice yang menampilkan suara jelas dan tajam. Seolah kami bisa membedakan setiap detil pergerakan di ballroom dalam cerita. Suara-suara meluncur dari delapan speaker besar yang membuat kami tenggelam dalam cerita di waktu dan tempat yang berbeda. Lalu, kami berpindah ke buku komedi berjudul Big Age, meski sebagian besar tidak banyak yang membuat saya tertawa, tetapi saya bisa mendengar suara kertas yang berlalu, seolah ada yang sedang meremas kertas di ruangan.
Kembali ke dalam Cadillac, saya mendengarkan cuplikan dari Oliver Twist dan beberapa lagi dari Harry Potter. Saat mendengarkan lagu Golden, kesan yang ditinggalkan Dolby Atmos sangat mengesankan. Tapi, Rocket Man yang paling mendalam, seakan mengingatkan bahwa kualitas suara yang biasanya kita dengar terbatas oleh pengalaman dan alat yang kita gunakan. Hanya dengan satu sistem suara yang mumpuni dan algoritma pemrosesan seperti Dolby Atmos, kita bisa merasakan hal yang sebenarnya kita lewatkan. Ya, ditambah satu lagi, 38 speaker yang siap memanjakan telinga kita.

