Dreame memperkenalkan dua model ponsel Aurora di Dreame Next
Setelah peluncuran mobil roket di hari pertama dan beragam perangkat pintar di hari kedua, Dreame Next di hari ketiga menampilkan dua ponsel pintar — dan bagi beberapa orang, desainnya bisa jadi bikin jatuh cinta atau justru merasa mual.
Kali ini, kita tidak membahas model Dreame Aurora yang lebih standar dengan tambahan Nex-nya — desain itu terlihat cukup keren. Mengadopsi bentuk gundukan kamera melingkar besar yang biasanya ditemukan di Oppo Find X9 Ultra atau OnePlus 13 Pro, ponsel ini mengusung kamera 200MP dengan sensor berukuran 1 inci.
Ditambah lagi, dengan baterai 7.000 mAh, diharapkan ponsel ini benar-benar bisa memenuhi janji daya tahan baterai seharian penuh.
Yang jadi sorotan utama dari desain ini adalah aksesori Aurora Nex. Ini adalah koleksi attachment mirip MagSafe dengan berbagai fungsi: ada kamera aksi 50MP dengan fokus otomatis super cepat, snapper telefoto 50MP yang dilengkapi sensor LOFIC untuk HDR satu kali jepret, modul komunikasi satelit agar tetap terhubung di mana pun, serta modul pendingin (alias fan) untuk menjaga suhu ponsel tetap dingin saat sesi gaming yang intens. Ada juga modul Agent yang tampak seperti teman AI — meskipun detail lebih lanjut tentang dukungannya masih sangat terbatas.
Dreame mengisyaratkan bahwa aksesori lainnya mungkin akan diluncurkan ke depannya. Ini adalah pendekatan yang menarik untuk modularitas smartphone — meskipun kita perlu mencoba aksesori ini untuk melihat apakah mereka dapat memenuhi janji tersebut.
Dari Mewah hingga Tidak Menarik
Di sisi lain, muncul Dreame Aurora Lux — ponsel pintar dengan desain rumit yang dilapisi cetakan cerah, perhiasan, dan efek visual sehingga lebih mirip tas tangan daripada ponsel. Dengan nama-nama seperti Imperial Totem, Regalia Shield, dan Axiom Geometry (ya, ini adalah nama-nama ponsel asli, bukan serangan ultimate di JRPG), desain ini pasti mencolok di antara jajaran iPhone dan Samsung Galaxy yang ada. Namun, secara pribadi, desain-desain ini tidak sesuai dengan selera.
Kita juga sempat melihat Aurora OS 1.0. Di ajang ini, tampaknya sistem operasi ini masih dalam tahap pengembangan — arsitektur Android 16-nya sangat terlihat, sehingga membuatnya terasa lebih sebagai tema estetis daripada versi Android yang benar-benar mandiri. Ada juga pembicaraan mengenai AI dan asisten konteks pribadi yang biasanya dijanjikan semua perusahaan ponsel — yang menggabungkan data dari berbagai aplikasi untuk membantu mengorganisir kehidupan nyata dan digital kita — tetapi, lagi-lagi, presentasi terasa kurang detail mengenai bagaimana semua itu akan diwujudkan.
Selain itu, dua detail penting yang masih minim informasi adalah harga dan tanggal rilis. Dreame Next terasa aneh sebagai showcase, dan kurangnya komitmen pasti mengenai kapan teknologi ini akan tersedia membuat suasana sedikit suram — rasanya sulit untuk merasa bersemangat dengan teknologi yang mungkin tidak akan pernah kita coba.
Jika kamu sedang mencari ponsel mencolok, berharaplah agar perangkat Dreame Aurora segera diluncurkan. Namun, untuk saat ini, pilihan akan terbatas pada casing iPhone yang bling-bling.

