Thailand mencatatkan kenaikan indeks produksi manufaktur sebesar 2,05 persen di bulan September dibandingkan tahun lalu, menurut pernyataan dari kementerian industri pada hari Jumat (30 Oktober). Angka ini terkesan kurang memuaskan dibandingkan dengan proyeksi yang diajukan oleh para analis.
Dalam pemungutan suara oleh Reuters, perkiraan kenaikan tahunan untuk bulan September seharusnya mencapai 3 persen.
Menurut kementerian, kenaikan produksi di bulan September dipicu oleh permintaan dari sektor AI dan pusat data, serta langkah-langkah pemerintah untuk mendukung daya beli masyarakat.
Peningkatan produksi juga terlihat dari bertambahnya jumlah alat satelit, elektronik, dan komputer yang dihasilkan. Ini menunjukkan bahwa sektor teknologi di Thailand mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Namun, tantangan lain tetap menghantui, seperti tingginya utang rumah tangga yang masih membebani konsumsi masyarakat. Ketegangan di Timur Tengah juga berkontribusi pada kenaikan biaya produksi, yang bisa berpengaruh negatif terhadap kinerja ekonomi ke depan.
Pada bulan lalu, kementerian bahkan sudah menaikkan proyeksi pertumbuhan output pabrik untuk tahun 2026 menjadi kisaran 2,75 persen hingga 3,75 persen, seiring dengan perubahan metodologi yang digunakan untuk menghitungnya. Hal ini tentu menjadi berita yang menarik bagi para investor dan pengamat pasar yang mengikuti perkembangan ekonomi Thailand.

