[JAKARTA] Pemerintah Indonesia akan mengambil alih kendali dalam proyek kereta cepat senilai US$7,3 miliar yang dibiayai oleh China. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dan pejabat senior dari dana kekayaan negara Danantara.
Purbaya menyatakan dalam konferensi pers bersama Danantara pada Rabu (5 Agustus) bahwa akan ada lembaga di bawah kementeriannya yang ditunjuk untuk mengambil alih 60 persen saham di KCIC, perusahaan yang mengoperasikan kereta cepat tersebut.
Nilai dari saham ini belum diungkapkan secara rinci.
Kereta cepat yang secara komersial dikenal dengan nama Whoosh ini memiliki panjang jalur 142 km, menghubungkan Jakarta dengan Bandung, kota yang terletak di tenggara ibukota Indonesia.
Lembaga yang ditunjuk nantinya akan bertanggung jawab untuk membayar kembali pinjaman proyek, namun tidak akan menggunakan anggaran negara, tegas Purbaya.
Transaksi ini direncanakan akan selesai paling lambat pertengahan September, kata Dony Oskaria, kepala operasi Danantara.
Pada bulan April, Dony mengungkapkan bahwa Indonesia telah menyelesaikan negosiasi utang dengan China untuk proyek ini, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Proyek ini telah dibayangi berbagai masalah, termasuk isu pengadaan lahan, penundaan akibat pandemi, serta meningkatnya biaya.
Saham 60 persen di KCIC saat ini dipegang oleh konsorsium perusahaan negara Indonesia yang dipimpin oleh perusahaan kereta api negara, Kereta Api Indonesia, dengan perusahaan konstruksi Wijaya Karya juga memegang saham signifikan.
Perusahaan-perusahaan negara China akan terus memegang 40 persen saham dalam proyek ini. Danantara mengendalikan semua perusahaan negara Indonesia.

