[KUALA LUMPUR] Koalisi pemerintahan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, kini sedang menghadapi tantangan besar terkait dukungan publiknya. Hal ini menyusul adanya tanda-tanda ketegangan internal setelah dua negara bagian di Malaysia mengumumkan pemilihan mendadak. Spekulasi tentang pemilihan nasional yang lebih awal juga mulai ramai diperbincangkan.
Dua mitra koalisi nasional Anwar adalah pemimpin pemerintah di Negeri Sembilan dan Johor. Badan legislatif di kedua negara bagian itu dibubarkan pada hari Jumat (29 Mei) dan Senin, dan pemilihan akan dilaksanakan dalam waktu 60 hari ke depan.
Meskipun pemilihan ini tidak secara langsung memengaruhi mayoritas Anwar di parlemen nasional, kehilangan suara yang signifikan bisa melemahkan prospek koalisinya dalam pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung awal 2028. Bulan lalu, Anwar menyatakan bahwa ia mempertimbangkan untuk mengadakan pemilihan mendadak jika perpecahan internal dalam pemerintahannya terus meluas.
Hingga saat ini, kantor Anwar belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar pada hari Jumat.
Di dalam koalisi yang dipimpin Anwar, terlihat ada perbedaan pandangan terkait penanganan isu-isu etnis dan agama di negara yang multiras dan mayoritas Muslim ini. Rasa frustrasi semakin tumbuh di kalangan sekutu progresifnya terkait lambatnya progres reformasi yang sudah lama dinantikan.
Anwar juga menghadapi tekanan dari United Malays National Organisation (UMNO), yang merupakan bagian dari Barisan Nasional, terkait mendorong pengampunan untuk mantan perdana menteri dan pemimpin UMNO, Najib Razak. Najib sendiri sedang menjalani hukuman penjara sejak 2022 akibat keterlibatannya dalam skandal 1MDB yang melibatkan miliaran dolar.
Koalisi Pakatan saat ini menguasai Negeri Sembilan, di mana pemilihan tidak dijadwalkan hingga akhir 2028, sementara Barisan memimpin Johor, yang pemilihan dijadwalkan tahun depan.
Dalam apa yang dianggap sebagai tanda ketegangan di antara koalisi, Barisan telah menyatakan bahwa mereka akan bertarung dalam pemilihan negara bagian Johor secara independen tanpa dukungan Pakatan. Sementara itu, di Negeri Sembilan, Pakatan berencana untuk mencalonkan semua 36 kursi, setelah sebelumnya meraih 17 kursi pada pemilihan negara bagian terakhir.
Dua negara bagian lainnya, Malacca dan Sarawak, juga dijadwalkan mengadakan pemilihan dalam beberapa bulan mendatang. Komisi Pemilihan Umum (EC) yang akan menetapkan tanggal untuk pemilihan negara bagian, mengemukakan bahwa pemilihan umum yang lebih awal akan memungkinkan pemilihan negara bagian berlangsung bersamaan, sehingga menghemat biaya.

