Abdullah Mason mengambil risiko besar dengan menghadapi lawan menit terakhir yang tricky, Albert Bell. Meskipun ada beberapa momen tegang di awal, Mason menunjukkan ketahanan dan berhasil meraih kemenangan TKO kontroversial di ronde ke-12 di kampung halamannya, Cleveland. Mari kita bahas tentang pertarungan ini.
Bagaimana Abdullah Mason Mengalahkan Albert Bell?
Di awal pertarungan, Bell terlihat lebih unggul dengan panjang tubuh dan pengalaman yang dimilikinya. Para komentator di siaran langsung merasa Bell telah memenangkan enam ronde pertama secara tidak resmi. Namun, di tengah pertarungan, Mason meluncurkan satu pukulan keras yang tampaknya telah mematahkan hidung Bell.
Dari situ, Mason mulai menyerang tubuhnya, membuat Bell mundur dari pertarungan selama beberapa ronde berikutnya. Di ronde ke-12, Mason diberitahu bahwa ia mungkin kalah di kertas skor. Ia merespons dengan ledakan awal yang membuat Bell terjatuh ke kanvas.
Bell bangkit kembali, namun ia merasakan dampaknya — bahkan dengan pengakuan dari dirinya sendiri.
Di akhir ronde, Mason menjatuhkan Bell lagi, meskipun tampaknya lebih karena reaksi momentum ketimbang pukulan yang jelas. Tidak lama setelah itu, wasit Mark Nelson secara tiba-tiba menghentikan pertarungan.
Kenapa pertarungan dihentikan? Hampir tidak ada yang memahaminya.
Syukurlah, penghentian ini tidak membuat Bell kalah. Ketiga juri mencatat bahwa Mason memimpin sebelum ronde terakhir. Dengan Mason yang menjatuhkan Bell dua kali di ronde ke-12, hasilnya sudah hampir pasti. Namun, penghentian ini terasa sangat mengecewakan.
Apa Selanjutnya untuk Abdullah Mason dan Albert Bell?
Mason adalah superstar sejati. Di usia 22, ia masih berkembang, dan penampilan kali ini sangat baik mengingat situasi yang dialaminya. Ia menghadapi lawan yang sulit dalam hal gaya bertarung, memulai dengan lambat, namun berhasil menemukan cara untuk menampakkan dominasi. Ia berpeluang menjadi bintang bayar-per-tayang dalam beberapa tahun ke depan, dan kini ia menjadi bintang utama di Top Rank.
Sementara itu, Bell mungkin telah menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya untuk menjadi juara dunia. Di usia 33, ia adalah lawan yang tangguh untuk hampir siapa pun, namun ia tidak terlalu menarik atau menjadi magnet penonton. Ini adalah formula untuk dihindari.
Jika ia mendapatkan kesempatan gelar lainnya, mungkin akan datang dengan cara pengganti lain di menit-menit terakhir.

