China harus segera memberikan dorongan fiskal yang lebih besar, karena perekonomiannya berada di ambang deflasi, menurut seorang pejabat senior dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada Kamis, 15 Oktober.
“Kami menyambut baik dukungan fiskal yang diberikan China kepada ekonominya. Namun, menurut pandangan kami, ukuran dan cakupannya cukup terbatas,” ungkap Krishna Srinivasan, direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, dalam sebuah konferensi pers.
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO), IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,5 persen tahun ini dari 5 persen pada 2025, disebabkan oleh lemahnya permintaan domestik. Mereka mengharapkan pertumbuhan akan melambat lebih jauh menjadi 4 persen pada 2027.
“Sebagian besar pertumbuhan di China dijelaskan oleh permintaan eksternal, dan rebalancing yang telah kami bicarakan sejak beberapa waktu lalu sebenarnya belum terwujud,” jelas Srinivasan.
“Kami percaya bahwa lebih banyak langkah stimulasi fiskal diperlukan dalam waktu dekat hingga ekonomi kembali pulih,” tambahnya, menekankan perlunya peningkatan harga di tengah kondisi ekonomi yang “berada di ambang deflasi.”
Dia juga menyatakan bahwa krisis properti di China telah “berlangsung terlalu lama,” mengulangi proposal IMF untuk mengambil kebijakan guna rehabilitasi sektor real estat, seperti langkah untuk meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan membangun jaring pengaman sosial.
Melihat kondisi ini, banyak investor dan analis pasar akan memperhatikan langkah-langkah konkret yang diambil oleh pemerintah China. Pemberian stimulus fiskal tambahan bisa menjadi langkah penting untuk memompa kembali roda ekonomi dan menciptakan kepercayaan di kalangan konsumen dan pelaku usaha. Apalagi, bila kita mempertimbangkan bahwa sektor properti yang lemah berpotensi menambah beban ekonomi lebih jauh.
Dengan proyeksi pertumbuhan yang melambat, perhatian global pun akan tertuju pada bagaimana pemerintah China merespons tantangan ini. Kebijakan yang tepat dapat membantu meminimalkan risiko deflasi dan mendukung pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Tentu saja, performa ekonomi China akan berdampak besar pada pasar global dan juga dapat memengaruhi kebijakan ekonomi negara-negara lainnya.
Menjadi waktu yang krusial bagi China untuk menunjukkan ketangguhannya. Dengan meningkatnya permintaan eksternal, negara ini perlu menciptakan keseimbangan antara dorongan fiskal dan pemulihan sektor domestik agar tetap dapat bersaing di panggung dunia. Bagaimana langkah-langkah yang akan diambil ke depan akan menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan investor di seluruh dunia.

