FCC Mengkaji Larangan pada “Modul Seluler” yang Diproduksi di Tiongkok
Pada era teknologi yang terus berkembang, isu keamanan siber menjadi perhatian utama. Baru-baru ini, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk menambahkan “modul seluler” yang diproduksi di Tiongkok ke dalam daftar perangkat elektronik yang mungkin dilarang karena alasan keamanan nasional.
Sebelumnya, Federal Communications Commission (FCC) sudah lebih dulu memberlakukan larangan terhadap laboratorium di Tiongkok yang melakukan pengujian produk yang akan diekspor ke AS. Sekarang, FCC juga membahas kemungkinan memasukkan modul seluler ke dalam larangan tersebut, following langkah-langkah sebelumnya yang mencakup drone dan router, menurut laporan dari Financial Times.
Potensi Dampak Larangan terhadap Rantai Pasokan
Presiden Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan rekan dari Tiongkok, Xi Jinping, dalam pembicaraan strategis di Beijing. Dalam pertemuan ini, keduanya diharapkan mendiskusikan berbagai isu mulai dari perdagangan hingga hubungan bilateral antara kedua kekuatan besar tersebut.
Modul seluler adalah komponen elektronik yang memungkinkan perangkat untuk mengirim dan/atau menerima sinyal seluler, seperti yang digunakan pada jaringan 4G dan 5G. Komponen ini terintegrasi dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari perangkat Internet of Things (IoT) dalam teknologi rumah pintar, sistem medis, hingga mobil dan sistem kontrol industri.
Larangan terhadap modul seluler dari Tiongkok tampaknya tidak lepas dari strategi untuk memberi tekanan pada Tiongkok agar berkontribusi secara lebih konstruktif dalam pertemuan dengan Trump. Pemerintahan Trump melihat produk dan perangkat lunak yang diproduksi di Tiongkok sebagai potensi risiko keamanan nasional. Larangan ini secara perlahan diperluas dari penggunaan oleh kontraktor pemerintah hingga pasar domestik, dan jika diterapkan, dampaknya bisa sangat signifikan.
Charles Parton, seorang diplomat pensiunan Inggris dan rekan senior di Royal United Services Institute (RUSI), yang berpengalaman dalam modul, mengungkapkan bahwa sekitar 70% pasar global modul seluler dikuasai oleh beberapa grup besar dari Tiongkok, termasuk Quectel, Fibocom, China Mobile, Sunsea, dan MeiG.
Perlu diingat, setiap perangkat elektronik yang terhubung dengan internet membutuhkan pembaruan berkala agar tetap berfungsi optimal dan aman dari ancaman. Namun, FCC khawatir bahwa pembaruan ini bisa disusupi perangkat lunak pemantauan rahasia atau malware berbahaya.
Jika larangan benar-benar diterapkan, dampak pada rantai pasokan modul seluler bisa sangat besar. Produsen akan berusaha mencari sumber alternatif, namun kemungkinan besar sumber baru ini tidak akan mampu memenuhi lonjakan permintaan yang mendadak. Ini bisa menyebabkan harga modul seluler melonjak, yang pada gilirannya akan meningkatkan biaya barang-barang yang dibutuhkan konsumen.
Dengan berbagai faktor ini, perhatian publik dan pasar terhadap isu keamanan siber semakin meningkat. Keputusan FCC dan pemerintah AS akan berpengaruh tidak hanya pada pasar teknologi, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari kita sebagai konsumen dan pengguna teknologi. Menarik untuk melihat bagaimana dampak ini akan terwujud di masa depan.

